VPS : OpenVZ Vs XEN
OpenVZ (Disebut Virtual Private Server)
Kelebihan :
1. Bisa
berlakukan overselling.
2. Setup lebih
mudah mengingat partisi linux yang digunakan secara standar.
3. Menggunakan
Burst RAM.
4. Pengelolaan
Server lebih gampang dibanding Xen.
Kekurangan :
1. Tidak
mendukung SWAP.
2. Semua VPS yang
ada sangat bergantung kepada Nodenya (Karena kernelnya ikut ke Node).
3. Jika memory
dedicated dan Burst habis/mentok maka VPS akan down.
4. Beberapa
seting dibatasi oleh Node.
5. Hanya mendukung
linux.
XEN (Disebut Virtual Dedicated Server)
Kelebihan :
1. Sistemnya
berdiri sendiri layaknya sebuah Dedicated Server
2. Menggunakan
SWAP.
3. Hampir tidak
ada masalah dengan seting karena tidak dibatasi oleh node.
4. Jika Memory
Dedicated habis, maka SWAP akan berfungsi otomatis dan tidak seperti OpenVZ
yang down, pada XEN hanya menyebabkan sistem VDSnya akan melambat.
5. Bisa mendukung
instalasi Windows Server.
Kekurangan :
1. Setup Node
dengan partisi LVM (Karena membutuhkan VG untuk client VDSnya).
2. XEN hanya
berjalan pada 256 MB RAM (dibawah spek ini tidak akan stabil).
3. Perlu space
lebih di node untuk temp prosesnya.
Jakarta - Dalam sebuah seminar tentang cloud computing, Francis Lee
dari Joyent menyebutkan ada sejumlah mitos yang melingkupi cloud computing.
Mitos-mitos inilah yang membuat orang-orang ataupun perusahaan masih enggan
untuk berpindah dari model data center lama ke layanan cloud computing.
Edukasi tentang cloud computing mutlak
diperlukan untuk mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan cloud computing.
Tahun 2012 seperti yang saya prediksikan di Indonesia akan menjadi tahun di
mana orang akan ingin tahu lebih banyak tentang teknologi cloud, termasuk
mencoba layanan tersebut secara langsung.
Satu hal yang pasti, dengan mengalihkan sumber
daya ke teknologi cloud bukan berarti pemilik data bisa ongkang-ongkang kaki
dan lepas tangan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan (misalnya: crash, hacked) terjadi
dengan penyedia layanan cloud-nya.
Penyedia layanan cloud yang baik pasti dari awal
kontrak akan mengajak klien untuk duduk bareng mendesain environment sistem
untuk mendapatkan hasil yang optimal. Ini merupakan bukti awal keseriusan
penyedia layanan cloud untuk secara sungguh-sungguh membantu kita mengurusi
alih sumber daya terhadap seluruh sistem komputer yang dimiliki perusahaan.
Berikut adalah mitos-mitos cloud computing yang
disebutkan oleh Francis Lee dan bagaimana sesungguhnya yang terjadi di dunia
nyata:
1. Cloud Computing tidak secure, reliable, dan
scalable
Tiga hal ini saya gabungkan menjadi satu.
Faktanya adalah cloud computing bisa saja tidak secure, reliable, dan scalable.
Hal ini bisa terjadi jika kita memilih penyedia layanan cloud yang tidak tepat
dan kita tidak terlibat langsung dalam pendesainan arsitektur sistem komputer
yang dikehendaki.
Menurut Francis, penggunaan layanan cloud bukan
berarti sistem tersebut langsung 100% aman. Kita tetap perlu memasang sistem
pengaman seperti SSL dan semua layer keamanan yang menjadi faktor utama apakah
sistem kita mudah ditembus atau tidak. Dari awal, seharusnya penyedia layanan
cloud sudah memberikan saran-saran tentang cara terbaik untuk memastikan
keamanan sistem.
Sementara itu, faktor reliable dan scalable
bergantung dengan cara kita mendesain sistem komputer yang dimiliki di cloud
dan bagaimana backup plan yang dimiliki oleh penyedia layanan cloud. Dengan
demikian, langkah persiapan -- baik dalam memilih penyedia cloud maupun
mendesain arsitektur sistem komputer -- merupakan hal critical untuk menentukan
apakah sistem akan secure, reliable, dan scalable.
2. Cloud Computing tidak menghemat uang
Bisa jadi bahwa ternyata biaya yang dikeluarkan
untuk mengalihkan sumber daya ke layanan cloud tidak lebih murah ketimbang
membuat data center sendiri.
Masalahnya, membuat data center sendiri itu
pastinya membutuhkan yang namanya ruangan, infrastruktur, dan hardware yang
semuanya adalah aset dan memiliki faktor depresiasi. Belum lagi seandainya kita
perlu memperbarui semua itu secara berkala.
Sebaliknya dengan mengalihkan sistem ke
teknologi cloud, hanya satu hal yang kita pikirkan dari sisi keuangan, yaitu
biaya operasional. Tidak ada aset dan depresiasi yang perlu diurusi.
Anggap saja seperti pembayaran bulanan yang
rutin dikeluarkan, seperti halnya layanan listrik, air, atau telepon. Tidak
perlu pusing dengan pembaruan teknologi ataupun bagaimana membuang perangkat
yang sudah usang.
3. Cloud Computing membutuhkan skill IT yang
baru
Apakah teknologi cloud membutuhkan skill yang
baru? Sekarang dibalik, jika Anda berkecimpung di dunia Teknologi Informasi,
hal apa yang tidak baru setiap harinya?
Berbeda dengan dunia teknik lainnya, IT adalah
dunia yang sangat cepat menuntut perubahan. Ini termasuk dengan skill dan ilmu
yang diperlukan. Apa yang menjadi tren lima tahun lalu bisa jadi sudah tidak
ada yang menggunakan saat ini.
Khusus untuk teknologi cloud, para administrator
sistem di perusahaan tentu harus mengerti bagaimana meng-handle teknologi yang
diterapkan oleh layanan cloud computing.
Belajar terus-menerus, terutama untuk teknologi
baru, adalah keharusan dan itu bukanlah hal yang bisa ditawar. Tentu saja
penyedia layanan cloud akan selalu membantu jika memerlukan transfer ilmu dan
teknologi.
Itulah sekelumit mitos yang berkaitan dengan
cloud computing. Garis besarnya adalah teknologi cloud memang memudahkan kita
mengurusi sistem komputer yang dimiliki tapi pemilik sistem tetap secara penuh
bertanggung jawab untuk memastikan bahwa sistem yang dimiliki sudah benar-benar
cukup secure, reliable, dan scalable. Update terhadap perkembangan teknologi
juga merupakan keharusan di dunia yang serba cepat ini.
Semoga kita bisa memahami teknologi cloud dengan
lebih baik dan dapat memutuskan apakah teknologi cloud computing merupakan
solusi terbaik bagi sistem kita atau tidak.