Kamis, 03 Mei 2012

Hosting Afiliasi Indonesia



 Layerspeed hosting murah  sebagai salah satu perusahaan bisnis afiliasi Indonesia menawarkan afiliasi hosting dan afiliasi domain name.
Mengapa Bisnis Afiliasi di LayerSpeed ?
§  Gratis biaya pendaftaran
§  Tidak harus membeli produk
§  Tidak ada transaksi tersembunyi
§  Pencairan komisi minimum Rp.100.000
§  Tidak harus memiliki website sendiri
§  Komisi 20% dari total order oleh referensi Anda
§  Laporan komisi bulanan via email
§  Hasilkan uang melalui Internet
klik di sini untuk melakukan pendaftaran afiliasi di LayerSpeed
SYARAT DAN KETENTUAN
§  Bersifat bebas dan terbuka untuk siapa saja yang ingin menjadi Affiliate Partner layerspeed
§  Partner disarankan memiliki salah satu rekening di Bank BCA Biaya pengiriman dana ke bank lain akan di ambil dari komisi Anda.
§  Membership akan dibatalkan secara sepihak dan segala kredit yang telah dicapai akan dihapuskan apabila Affiliate Partner terbukti melakukan tindakan mass e-mail (SPAM), atau mempromosikan LayerSpeed dengan cara diluar ketentuan yang telah ditentukan oleh LayerSpeed
Metode Promosi
§  Melalui pemasangan text link atau banner.
§  Affiliate Partner diperbolehkan untuk memasang text link atau banner tanpa batasan jumlah tertentu pada website – website iklan / classified.
§  Affiliate Partner diperbolehkan untuk mempromosikan Kode Kupon melalui e-mail dalam batasan bukan abuse (email yang tidak dikenal).
§  Affiliate Partner dilarang memodifikasi link affiliasi LayerSpeed
Pembayaran / Pencairan Komisi
§  Pendaftaran atau pemesanan di lakukan dengan username / id dari affiliate partner.
§  Komisi yang akan dibayarkan kepada Affiliate Partner adalah sebesar 20% dari total transaksi yang dilakukan oleh pembeli/pemesan.
§  Proses penambahan tidak terjadi langsung ketika ada transaksi, namun setelah transaksi tersebut dibayar oleh pembeli/pemesan.
§  Komisi akan dikirimkan setelah ada permintaan pengiriman oleh Affiliate Partner.
§  Jumlah minimum pencairan komisi adalah Rp. 100.000
§  Komisi yang diminta akan dikirimkan ke rekening Bank BCA  milik Affiliate Partner pada saat pendaftaran.
§  LayerSpeed tidak akan mengganti kerugian yang ditimbulkan akibat pihak Affiliate Partner salah memberikan informasi nomor rekening.
§  Affiliate Partner akan menerima EMail perolehan komisi dan laporan transaksi yang dilakukan oleh nasabahnya setiap bulan.
Sistim Database
Sistim Database kami menggunakan 2 metode;
1.       Dalam bentuk File, tersimpan pada Server
2.       Dalam bentuk Fisik, hasil printing yang tersimpan dalam dokumen dikantor LayerSpeed
Metode ini akan menjadikan dokumen lebih akurat dan aman. Jika terjadi perselisihan antara Mitra Kerja dan LayerSpeed maka sewaktu-waktu kedua metode ini dapat menjadi acuan dalam mengambil tindakan dan keputusan affiliasi LayerSpeed.

Senin, 05 Maret 2012

Perbedaan VPS OpenVZ dan XEN


VPS : OpenVZ Vs XEN

OpenVZ (Disebut Virtual Private Server)
Kelebihan :
1. Bisa berlakukan overselling.
2. Setup lebih mudah mengingat partisi linux yang digunakan secara standar.
3. Menggunakan Burst RAM.
4. Pengelolaan Server lebih gampang dibanding Xen.

Kekurangan :
1. Tidak mendukung SWAP.
2. Semua VPS yang ada sangat bergantung kepada Nodenya (Karena kernelnya ikut ke Node).
3. Jika memory dedicated dan Burst habis/mentok maka VPS akan down.
4. Beberapa seting dibatasi oleh Node.
5. Hanya mendukung linux.

XEN (Disebut Virtual Dedicated Server)
Kelebihan :
1. Sistemnya berdiri sendiri layaknya sebuah Dedicated Server
2. Menggunakan SWAP.
3. Hampir tidak ada masalah dengan seting karena tidak dibatasi oleh node.
4. Jika Memory Dedicated habis, maka SWAP akan berfungsi otomatis dan tidak seperti OpenVZ yang down, pada XEN hanya menyebabkan sistem VDSnya akan melambat.
5. Bisa mendukung instalasi Windows Server.

Kekurangan :
1. Setup Node dengan partisi LVM (Karena membutuhkan VG untuk client VDSnya).
2. XEN hanya berjalan pada 256 MB RAM (dibawah spek ini tidak akan stabil).
3. Perlu space lebih di node untuk temp prosesnya.

Mitos Tentang Cloud Computing



Jakarta - Dalam sebuah seminar tentang cloud computing, Francis Lee dari Joyent menyebutkan ada sejumlah mitos yang melingkupi cloud computing. Mitos-mitos inilah yang membuat orang-orang ataupun perusahaan masih enggan untuk berpindah dari model data center lama ke layanan cloud computing. 

Edukasi tentang cloud computing mutlak diperlukan untuk mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan cloud computing. Tahun 2012 seperti yang saya prediksikan di Indonesia akan menjadi tahun di mana orang akan ingin tahu lebih banyak tentang teknologi cloud, termasuk mencoba layanan tersebut secara langsung.

Satu hal yang pasti, dengan mengalihkan sumber daya ke teknologi cloud bukan berarti pemilik data bisa ongkang-ongkang kaki dan lepas tangan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan (misalnya: crash, hacked) terjadi dengan penyedia layanan cloud-nya. 

Penyedia layanan cloud yang baik pasti dari awal kontrak akan mengajak klien untuk duduk bareng mendesain environment sistem untuk mendapatkan hasil yang optimal. Ini merupakan bukti awal keseriusan penyedia layanan cloud untuk secara sungguh-sungguh membantu kita mengurusi alih sumber daya terhadap seluruh sistem komputer yang dimiliki perusahaan.

Berikut adalah mitos-mitos cloud computing yang disebutkan oleh Francis Lee dan bagaimana sesungguhnya yang terjadi di dunia nyata:

1. Cloud Computing tidak secure, reliable, dan scalable

Tiga hal ini saya gabungkan menjadi satu. Faktanya adalah cloud computing bisa saja tidak secure, reliable, dan scalable. Hal ini bisa terjadi jika kita memilih penyedia layanan cloud yang tidak tepat dan kita tidak terlibat langsung dalam pendesainan arsitektur sistem komputer yang dikehendaki. 

Menurut Francis, penggunaan layanan cloud bukan berarti sistem tersebut langsung 100% aman. Kita tetap perlu memasang sistem pengaman seperti SSL dan semua layer keamanan yang menjadi faktor utama apakah sistem kita mudah ditembus atau tidak. Dari awal, seharusnya penyedia layanan cloud sudah memberikan saran-saran tentang cara terbaik untuk memastikan keamanan sistem.

Sementara itu, faktor reliable dan scalable bergantung dengan cara kita mendesain sistem komputer yang dimiliki di cloud dan bagaimana backup plan yang dimiliki oleh penyedia layanan cloud. Dengan demikian, langkah persiapan -- baik dalam memilih penyedia cloud maupun mendesain arsitektur sistem komputer -- merupakan hal critical untuk menentukan apakah sistem akan secure, reliable, dan scalable.

2. Cloud Computing tidak menghemat uang

Bisa jadi bahwa ternyata biaya yang dikeluarkan untuk mengalihkan sumber daya ke layanan cloud tidak lebih murah ketimbang membuat data center sendiri. 

Masalahnya, membuat data center sendiri itu pastinya membutuhkan yang namanya ruangan, infrastruktur, dan hardware yang semuanya adalah aset dan memiliki faktor depresiasi. Belum lagi seandainya kita perlu memperbarui semua itu secara berkala.

Sebaliknya dengan mengalihkan sistem ke teknologi cloud, hanya satu hal yang kita pikirkan dari sisi keuangan, yaitu biaya operasional. Tidak ada aset dan depresiasi yang perlu diurusi. 

Anggap saja seperti pembayaran bulanan yang rutin dikeluarkan, seperti halnya layanan listrik, air, atau telepon. Tidak perlu pusing dengan pembaruan teknologi ataupun bagaimana membuang perangkat yang sudah usang.

3. Cloud Computing membutuhkan skill IT yang baru

Apakah teknologi cloud membutuhkan skill yang baru? Sekarang dibalik, jika Anda berkecimpung di dunia Teknologi Informasi, hal apa yang tidak baru setiap harinya? 

Berbeda dengan dunia teknik lainnya, IT adalah dunia yang sangat cepat menuntut perubahan. Ini termasuk dengan skill dan ilmu yang diperlukan. Apa yang menjadi tren lima tahun lalu bisa jadi sudah tidak ada yang menggunakan saat ini.

Khusus untuk teknologi cloud, para administrator sistem di perusahaan tentu harus mengerti bagaimana meng-handle teknologi yang diterapkan oleh layanan cloud computing. 

Belajar terus-menerus, terutama untuk teknologi baru, adalah keharusan dan itu bukanlah hal yang bisa ditawar. Tentu saja penyedia layanan cloud akan selalu membantu jika memerlukan transfer ilmu dan teknologi.


Itulah sekelumit mitos yang berkaitan dengan cloud computing. Garis besarnya adalah teknologi cloud memang memudahkan kita mengurusi sistem komputer yang dimiliki tapi pemilik sistem tetap secara penuh bertanggung jawab untuk memastikan bahwa sistem yang dimiliki sudah benar-benar cukup secure, reliable, dan scalable. Update terhadap perkembangan teknologi juga merupakan keharusan di dunia yang serba cepat ini.

Semoga kita bisa memahami teknologi cloud dengan lebih baik dan dapat memutuskan apakah teknologi cloud computing merupakan solusi terbaik bagi sistem kita atau tidak.